Koran Banjar– Kecamatan Karang Intan semakin mantap melangkah menuju status baru sebagai sentra pengembangan ikan papuyu (betok) skala nasional. Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) menegaskan komitmen tersebut dengan menyiapkan lahan budidaya yang luas, dukungan fasilitas, serta pembinaan bagi para kelompok pembudi daya.
Lahan Luas, Dukungan Regulasi
Tahun 2025 ini, DKPP Banjar memanfaatkan lahan seluas 4,93 hektare khusus untuk budidaya papuyu. Tidak berhenti di situ, lahan tambahan seluas 14,73 hektare juga disiapkan untuk memperluas kawasan pengembangan di Karang Intan.
“Potensi di Karang Intan sangat besar, apalagi sudah didukung SK Menteri Kelautan dan Perikanan serta SK Bupati Banjar,” ujar Bandi Chairullah, Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Banjar.
Dengan landasan hukum yang jelas, langkah ini diyakini bukan hanya akan meningkatkan produksi, tetapi juga mengokohkan Karang Intan sebagai Kampung Perikanan Budidaya Papuyu yang berdaya saing nasional.
Komoditas Bernilai Ekonomi Tinggi
Ikan papuyu dikenal sebagai komoditas perikanan lokal yang memiliki cita rasa khas dan permintaan pasar stabil. Harga jualnya berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, menjadikannya salah satu sumber ekonomi potensial bagi masyarakat.
“Papuyu kini sudah ditetapkan sebagai komoditas unggulan daerah, sekaligus masuk dalam arah kebijakan nasional di sektor perikanan,” tambah Bandi.
Baca Juga: Balita Tewas Terlempar dari Motor Ibunya dalam Kecelakaan Maut di Kertak Hanyar
Produksi Terus Meningkat
Sejak tahun 2024, DKPP Banjar telah menggerakkan 10 kelompok pembudi daya: tujuh kelompok di Karang Intan dan tiga di Martapura Barat. Tahun lalu, produksi papuyu tercatat mencapai 7,3 ton.
Dengan adanya perluasan lahan dan pendampingan intensif, produksi panen raya pada September 2025 diproyeksikan meningkat signifikan.
Dukungan pemerintah tidak hanya berupa lahan, tetapi juga penyediaan benih unggul, bantuan pakan, pelatihan teknik budidaya modern, hingga pemantauan rutin agar kualitas dan produktivitas ikan tetap terjaga.
Tantangan SDM dan Solusinya
Meski potensi besar, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah rendahnya kapasitas sumber daya manusia (SDM) para pembudi daya.
“Solusinya, kami membentuk Forum Komunikasi Perikanan dan membuka sekolah lapang budidaya. Di sini, para pembudi daya bisa belajar teknik yang benar, saling bertukar pengalaman, serta mendapat bimbingan langsung dari tenaga ahli,” jelas Bandi.
Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan masyarakat, sehingga papuyu yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik, produktivitas lebih tinggi, dan berdaya saing di pasar.






